Rangkuman dari Penugasan Operator mesin produksi dengan menggunakan metode hungarian dan algoritma generate dan test
PENDAHULUAN
Peran Operator serta mesin-mesin yang digunakan dalam proses produksi sangatlah berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan. Penugasan yang tepat antara Operator dengan mesin menjadikan kapasitas produksi suatu perusahaan dapat dioptimalkan. Masalah penugasan (assignment problem) dapat berpengaruh terhadap kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan sejumlah produk. Oleh sebab itu masalah penugasan bila tidak ditangani dengan baik maka hal ini akan mengurangi produktifitas bahkan bisa menghambat pertumbuhan perusahaan. Generate and Test merupakan sebuah metode yang menggunakan konsep backtracking atau menuju kebelakang dalam pencarian lintasan terbaik, selain itu metode Generate and Test juga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah pendistribusian untuk mengoptimalkan kapasitas produksi. Metode Hungarian merupakan salah satu cara yang tersedia untuk masalah penugasan.
METODE
Menurut Paendong (2011), metode Hungarian adalah metode yang memodifikasi baris dan kolom dalam matriks efektifitas sampai muncul sebuah komponen nol tunggal dalam setiap baris atau kolom yang dapat dipilih sebagai alokasi penugasan. Semua alokasi penugasan yang di buat merupakan alokasi paling optimal, dan saat diterapkan pada matriks efektifitas awal, maka akan memberikan hasil penugasan yang paling minimum. Ada beberapa syarat yang harus digunakan dalam metode Hungarian yaitu: (Taha dalam Paendong, 2011).
1. Memodifikasi tabel penugasan ke dalam matriks efektifitas. Dimana matriks ini dibentuk untuk memudahkan dalam proses penyelesaian setiap langkah metode yang telah dilakukan.
2. Memilih nilai terkecil dari setiap baris, lalu dilakukan operasi pengurangan dari tiap nilai di baris tersebut dengan bilangan terkecil yang telah dipilih. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa ada minimal satu buah elemen di tiap baris matriks yang bernilai nol dan tidak ada elemen dengan nilai negatif.
3. Melakukan pengurangan kolom jika terdapat kolom yang belum memiliki elemen 0 yaitu memilih nilai terkecil dari kolom, lalu dilakukan operasi pengurangan dari tiap nilai kolom dengan bilangan terkecil yang telah dipilih. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa ada minimal satu buah elemen di tiap baris dan tiap kolom matriks yang bernilai nol dan tidak ada elemen dengan nilai negatif.
4. Membentuk penugasan optimum yaitu dengan menarik sejumlah garis horisontal dan atau vertikal yang melewati seluruh sel yang bernilai 0. Jika jumlah garis sama dengan jumlah baris/ kolom maka penugasan telah optimal. Jika tidak maka harus direvisi.
5. Melakukan revisi tabel dengan memilih nilai terkecil yang tidak dilewati garis lalu kurangkan dengan semua nilai yang tidak dilewati garis. Kemudian ditambahkan pada angka yang terdapat pada persilangan garis. Kembali ke langkah 5.
6. Penugasan ditempatkan pada sel yang bernilai 0. Dimana Tiap angka 0 diganti dengan angka 1 tetapi tiap kolom dan baris hanya memiliki satu angka 1 sebagai penugasan.
7. Menghitung total nilai dari solusi yang diperoleh berdasarkan elemen dari matriks awal yang belum direduksi nilainya sehingga diperoleh total nilai optimum.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan produksi di PT. dibagi menjadi 3 shift dimana pada setiap shift untuk produksi pellet dikerjakan oleh 1 grup yang berjumlah 4 orang setiap grup. Pada bagian pellet memiliki 3 grup operator. Setiap grup bertukar shift secara berurutan setiap minggunya, adapun pembagian formasi shift perminggunya dibagi menjadi 3 formasi:
1. Formasi A-B-C : Grup A pada shift 1, grup B pada shift 2, dan grup C pada shift 3.
2. Formasi B-C-A : Grup B pada shift 1, grup C pada shift 2, dan grup A pada shift 3.
3. Formasi C-A-B : Grup C pada shit 1, grup A pada shift 2, dan grup B pada shift 3. Kemampuan setiap operator dalam menhasilkan produk pada masing-masing shift juga berbeda.
Pada formasi A-B-C rata-rata jumlah produksi yang dihasilkan oleh tiap operator dapat di lihat pada tabel 1. berikut ini:
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu sebagai berikut: 1. Secara berurutan penugasan pada mesin 1,2,3,4 dengan algoritma generate and test yaitu shift 1 grup A penugasannya operator DB-A-C dengan jumlah produksi 23 batch, shift 1 grup B penugasannya operator D-A-C-B dengan jumlah produksi 24 batch, shift 1 grup C penugasannya operator A-D-C-B dengan jumlah produksi 23 batch. Shift 2 grup A penugasannya D-B-C-A dengan jumlah produksi 22 batch, shift 2 grup B penugasannya D-A-C-B dengan jumlah produksi 23 batch, shift 2 grup C penugasannya A-B-C-D dengan jumlah produksi 23 batch. Shift 3 grup A penugasannya C-B-D-A dengan jumlah produksi 21 batch, shift 3 grup B penugasannya D-A-C-B dengan jumlah produksi 22 batch, shift 3 grup C penugasannya A-D-C-B denga jumlah produksi 22 batch. Total produksi pada penugasan ini adalah 203 batch. 2. Secara berurutan penugasan pada mesin 1,2,3,4 dengan metode Hungarian yaitu shift 1 grup A penugasannya D-B-A-C dengan jumlah produksi 23 batch, shift 1 grup B penugasannya D-A-C-B dengan jumlah produksi 24 batch, shift 1 grup C penugasannya A-D-B-C dengan jumlah.